“”….Tentang Kisah Kasiah Tak
Sampai….”” (cerita ini fiktif belaka,
kalau ada
kesamaan nama, tempat atau
peristiwa, ini hanya suatu kebetulan
semata) Di ujung musim panas yang gersang,
Rusia berasa lebih kering dari biasanya.
Daun-daun meranggas pohon jati
beradaptasi dengan menggugurkan
daunnya. Beberapa orang berjalan di
taman dengan langkah tergesa. Kutatap laki-laki di depanku wajah
Indonesianya kelihat kentara. Betapa
lega bisa bertemu teman sebangsa di
negara empat musim ini. Terlebih lagi,
laki-laki ini juga urang awak . Ternyata
dunia lebih kecil dari daun kelor, buktinya, di kazaztan, negara Rusia
yang mayoritas penduduknya muslim
ini, saya bisa bertemu dengan orang
sekampung. Dan hari pertemuan itu,
menjadi hari yang mengawali kisah
panjang saya dengan laki-laki itu, yang mendatangkan banyak cerita, menuai
segenap lara.
Saya mulai sering bertemu tanpa
sengaja dengan laki-laki itu disebuah
festival ikan hias, lalu di pameran
bunga bonsai. Ternyata antara kami begitu banyak kesamaan hobi, dari
pertemuan-pertemuan yang tidak
disengaja kami mulai merancang
pertemuan-pertemuan yang disengaja.
Begitu banyak detik saat liburan yang
terlewati berdua dan semuanya menjadi alasan yang cukup untuk
mendatangkan cinta. 3 tahun berlalu.
Setelah kontrak kerja kami di Rusia
selesai, benang cinta kami tidak ikut
usai. Di bandara Moscow dalam bahasa
Inggris yang santun, laki-laki itu melamar saya menjadi istrinya. Walau
hati saya berasa terbang ke langit
tinggi, saya kerap minta waktu untuk
minta restu orang tua dulu.
Sepenuhnya amak , apak dan mamak
bersuka cita atas hal ini, ketika satu pertanyaan sederhana ternyata
memporak porandakan semuanya.
Ternyata laki-laki itu bersuku Guci,
sedang saya Payobada. Kami tak
pernah ingat kalau hal ini akan menjadi
penting. Mamak mulai berdiplomasi tentang sumpah nenek moyang. Kok
kawin sasamo suku, atau antara suku
berbeda tapi bersangkutan itu akan
mendatangkan banyak bencana.
Layaknya guci dan payobada itu adalah
suku bersangkutan, tidak boleh berjodohan. Yang ada hanya sengsara,
hidup jauh dari mulia. Seluruh sisi
kehidupan akan banyak diselimuti
penderitaan. Ibarat pohon, “kateh
indak bapucuak, kabawah indak
baurek, ditangah digiriak kumbang”. Semua menyarankan untuk mencari
laki-laki yang lain saja. Tak baik
menentang adat, tak ada guna
berkeras kepala. Antara guci dan
payobada sama dengan antara mamak
dan keponakan. Apo kato urang bako, idak mamak nen di bao lalok doh.
Kamano muko ka disuruakkan.
Masalah ini benar-benar menjadi serius,
keluarga besar laki-laki itupun menolak
dengan alasan yang sama. Bilo tajadi
elok jo buruak di rumah gadang tantu awak samo awak sae di ujuang pangka.
Apolah kato urang nanti. Semua
menentang. Saya stress berat untuk
surut dari hubungan ini, saya merasa
tak sanggup, 3 tahun merenda kasih,
laki-laki itu bertahta di benak saya setiap detik, terukir namanya di dada
saya, terletak agung di sudut hati
saya. Hari-hari terasa berat , saya
mulai bimbang.antara cinta dan adat
istiadat. Saya mulai meminta banyak
pendapat, lebih sering sholat malam, lebih banyak berdiam diri.
Suatu waktu terpikir untuk kawin lari
saja. Mungkin hidup bersama dengan
laki-laki itu saya bisa bahagia, tetapi
membayangkan besarnya malu yang
akan ditanggung oleh amak, apak dan mamak, jelas saya tidak tega. Ini sama
saja membuat mereka menderita.
Mengingat wajah-wajah sederhana
mereka, saya terbayang masa kecil
saya, mereka tak pernah mengeluh
lelah, curahan peluh berteman lumpur di tengah sawah, terpanggang
matahari, terguyur hujan deras, agar
kami para anak-anaknya bisa sekolah.
Manjadi Urang, kerja kantoran, jangan
sampai ka sawah manarimo upah. Atas
pengorbanan dan cinta yang luar biasa itu, bagaimana mungkin, setelah
berumur 30 tahun, bukannya
membahagiakan mereka, malah saya
mengecewakan mereka, inikah balasan
dari saya? Di kampung, kita dibiasakan
sensitif , tidak pura-pura menutup telinga, tentu berat bagi mereka, jika
setiap hari menjadi gunjingan tetangga.
Tidak sekedar itu saja, secara pribadi
saya adalah pribadi manja, serba
bergantung pada orang tua. Berbagai
bayangan buruk menghantui saya. Teringat gurauan Denducher, seorang
rekan saat di Rusia. Katanya,
pernikahan adalah lembaga perjudian
yang dihalalkan, ketika memasuki
gerbangnya kita mempertaruhkan
segalanya. Tanpa tau ada apa di dalamnya, menang atau kalah, bahagia
atau sengsara. Kalau saya nekat
menikah tanpa dukungan amak apak,
adik dan kakak. Benarkah setiap hari
di pernikahan nanti, kami mampu
mereguk kebahagian selayaknya kebahagian yang selalu di upayakan
maksimal oleh amak & apak kepada
saya? Benarkan di seluruh sisa umur
saya, laki-laki itu selalu siap
menyediakan bahunya tempat saya
bersandar ? Benarkah kasihnya kepada saya mampu mengimbangi kasih
amak & apak kepada saya ? Bukankah
pernikahan juga ada jenuhnya. Itu
sebabnya ada istilah bulan madu,
dimana hari-hari penuh cinta hanya
ada pada bulan-bulan pertama. Dan bukankah di rumah tangga akan selalu
ada beda pendapat, akan sering
berdebat, dan kalau kedamaian rumah
tangga terbang entah kemana, embun
kebahagian menguap entah kemana,
lalu kemana sesal akan saya bawa ? Saya memiliki puluhan teman
perempuan yang sudah berumah
tangga, banyak cerita yang saya
dengar, hampir semua rumah tangga
mereka pernah terguncang. Kalau
langit perkawinan saya sedang tidak cerah, ada mendung atau badai, andai
restu orang tua tak saya dapatkan,
lalu ke payung mana kelak saya akan
berlindung ? Bukankah di sepanjang
hidup saya, amak apak, adik dan kakak
adalah orang paling tepat untuk mencurahkan segala gundah,
pelabuhan segala kisah, muara segala
resah, tempat berbagi segenap keluh
dan kesah ?.
Saya benar-benar terjebak dalam
dilema yang memenatkan fisik dan jiwa saya, dilema yang cukup lihai menguras
air mata saya. Tapi keputusan harus
dibuat. Setelah berbulan-bulan larut
dalam kebimbangan, saya putuskan
menjauh dari laki-laki itu, semata-mata
karena ketidaksanggupan bermusuhan dengan orang tua dan saudara-
saudara saya. Tak penting bagi saya
soal suku atau apapun, selagi sesuai
agama, saya tak mengkawatirkan
apapun juga, kadang saya tergelak
sendiri, ngapain juga dulu nenek moyang bersumpah segala. Apa dasar
dan landasannya. Mana bukti otentik
omongan sumpah mereka. Sekarang
manusia sudah sedemikian berkembang,
soal hati, siapa yang bisa mangatur.
Kenapa Ninik Mamak tidak mulai berembug, layaknya Melayu dan Panai
sudah dilegalkan boleh saling menikah,
kenapa antara guci dan payobada
tidak ? Bukankah adat istiadat yang
sekiranya hanya menyengsarakan
penganutnya, sebaiknya dihapuskan saja ?
Setelah keputusan berat itu, aku
bertemu lagi dengan laki-laki penuh
kasih itu di halal bi halal solok saiyo
sakato (S3), aku tahu, baginya, inipun
sebuah cerita duka. Mata kami bertatapan, sesaat berbagi kekuatan.
Tapi the show must go on, apapun
yang terjadi, hidup terus berjalan,
ketika pameran foto alam media
kompas, laki-laki itu memperkenalkan
seorang gadis berjilbab biru kepadaku. Dengan nada rendah laki-laki itu
berkata, yang penting dia bukan gadis
payobad. Saya tertawa,
menyembunyikan lara, tak terasa
cemburu itu menyelinap hadir,
ternyata cinta saya padanya tak pernah bisa berakhir.
Pesawat mulai mengudara, transit di
Singapura, terus ke Bangkok baru
terbang ke Tokyo. Melanjutkan
perjalanan dengan kereta bawah
tanah saya tiba di kota Hokaido, stasiun yang luar biasa bersih, tong
sampah tidak tersedia. Jepang
membiasakan warganya membawa
pulang sampah mereka, karena proses
pembuangan sampah mereka
berdasarkan jenis sampahnya. Sungguh sesuatu yang patut jadi tauladan.
Komalia, sahabat semasa SMA,
menjemput saya, kami berpelukan,
melepas kerinduan.
Saya memutuskan mengambil
kesempatan untuk di kontrak kerja 3 tahun ke depan di Jepang. Saya
percaya, layaknya embun menghapus
kabut, layaknya hujan meniadakan
awan, waktu dan jarak jutaan mil pun
akan memupuskan lara saya pada laki-
laki yang telah berhasil menguasai hati saya itu. Sesekali cemburu itu tetap
menyeruak ada, tapi saya yakin,
berada di negara Sakura, terpisah
jauh darinya, tentu akan membuat
segalanya berbeda. Kusimpan rapat
kenangan saya dengan laki-laki itu, kukubur jauh-jauh dilubuk hati,
kujadikan ini kisah sejati. Kisah tentang
saling mencintai, tentang hormat kami
pada orang tua dan saudara-saudara
kami, tentang pengakuan bahwa kami
adalah bagian dari orang yang harus tau tentang adat banagari, tentang
sebuah kasiah tak sampai.
Semilir angin pertengahan musim semi
menebarkan kedamaian. Masyarakat
shinto Jepang sedang sembahyang
memuja matahari, saya berjalan sendiri, menikmati hari. Semoga
matahari musim semi, semoga mekar
mahkota sakura, mampu
mengembalikan keceriaan saya,
menjadikan saya gadi yang tidak
sekedar cantik, tetapi juga cerdas, ceria, dan tau cara membalas jasa
orang tua. (untuk papa, Daffa & Raffi
…… I Love
You …. So Much…) By :
{..Fitra Wilis..}
apa yang dimaksud dengan kinari
Contact
Popular Post
-
SUARA KINARI Beranda Lihat versi web Senin, 09 Februari 2009 SUARA KINARI di 21.27 DARI REDAKSI Alhamdulillah, serta puji syukur kita ...
-
DI SINI
-
Nagari Cinta bernama KINARI: Terbang pada ketinggian 10rb kaki diatas dataran Solok akan tersuguh pemandangan indah disepanjang lembah Bata...
-
Alamat : Kinari MASJID ISTIQAMAH TIPOLOGI Masjid Jami ID Masjid : 01.4.03.02.06.000006 Luas Tanah : 1.750 m 2 Status Tanah : Wakaf Lu...
-
Kisah di ceritakan Angku Warneri Serangan udara di Nagari Kinari Ketika dia seorang diri Duduk di Lapau menunggu pembeli Masih langka ti...
-
BukaBaju Template ,ya itulah nama template yang akan saya bagikan untuk anda yang ingin membuka lapak online alias berjualan dengan modal ya...
-
Cara Membuat Daftar Isi di Blog Otomatis – Banyak blogger yang bertanya bagaimana membuat daftar isi secara otomatis dan dikelompokan berd...
-
7 Template Toko Online/Ecommerce Untuk Blogger Berkembangnya bisnis online anda tentunya harus mempunyai website toko online profes...
Follow on Facebook
Recent Articles
rio sata